Refleksi & Pembelajaran PUG : FGD bahas peralihan strategi dari fasilitasi ke pengawasan

Image Description
3 bulan yang lalu Dilihat : 95 Kali
Share:
Refleksi & Pembelajaran PUG : FGD bahas peralihan strategi dari fasilitasi ke pengawasan

Samarinda — Di sebuah ruangan diskusi yang penuh perhatian dan kesungguhan, tepatnya di Five Cafe Restaurant (Five Premiere Hotel Samarinda), puluhan peserta dari berbagai instansi berkumpul untuk mengevaluasi perjalanan panjang Pengarusutamaan Gender (PUG) di Kota Samarinda. Melalui Focus Group Discussion bertema “Refleksi dan Pembelajaran Evaluasi PUG : Dari Fasilitasi ke Pengawasan” mereka mencoba menjawab satu pertanyaan penting : sudah sejauh mana kebijakan yang dibuat benar-benar menyentuh kehidupan perempuan, laki-laki, dan anak?
Kegiatan ini menghadirkan 2 (dua) narasumber dari DP2PA Kota Samarinda, yaitu Nanang Supratman, S.Pd.I, M.Pd yang juga bertindak sebagai Fasilitator PUG Daerah dan dari Inspektorat Daerah Kota Samarinda, Daniel Sya'ban. FGD bertujuan memberikan ruang analisis bersama atas capaian dan tantangan penerapan PUG selama periode sebelumnya, sekaligus merumuskan strategi pengawasan yang lebih efektif dalam integrasi gender pada perencanaan dan penganggaran daerah.

Para narasumber (dari kiri : Bapak Nanang Supratman, S.Pd. I, M.Pd dan Bapak Daniel Sya’ban, S.T., CfrA )

Kepala DP2PA Kota Samarinda, Dr. Ibnu Araby, MM.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa peningkatan kualitas pengawasan merupakan fase penting dalam menjamin keberlanjutan PUG.
“Kita telah memasuki era baru dalam implementasi PUG. Tidak cukup hanya memfasilitasi pelaksanaan, tetapi diperlukan pengawasan yang terstruktur dan terukur agar kebijakan benar-benar menghasilkan manfaat nyata bagi perempuan, laki-laki, anak, serta kelompok rentan” ujarnya.
Ibnu juga menekankan perlunya penguatan koordinasi lintas perangkat daerah sebagai fondasi utama keberhasilan.
“Tanggung jawab PUG bukan hanya milik DP2PA, tetapi menjadi tugas seluruh perangkat daerah. Pengawasan hanya dapat berjalan optimal apabila koordinasi dan komitmen dibangun secara kolektif” tambahnya.
Diskusi berlangsung hangat dan penuh empati. Setiap pandangan yang muncul mengisyaratkan satu hal : kesetaraan gender membutuhkan kolaborasi, keberanian, serta konsistensi. FGD ini menjadi ruang untuk menyatukan langkah, memperkuat komitmen, dan memastikan bahwa perjalanan menuju kesetaraan tidak berhenti di tengah jalan.

TINGGALKAN KOMENTAR