Sambut Hari Anak Sedunia, DP2PA Kota Samarinda Ikut Serta Dalam Siaran Inspiratif "Hariku, Hakku"
Dalam suasana penuh semangat dan kepedulian terhadap masa depan anak bangsa, DP2PA Kota Samarinda turut hadir dalam Program Siaran Kita Indonesia Jilid 2 yang mengusung tema “Hariku, Hakku”, sebuah tema yang menggema kuat dalam rangka peringatan Hari Anak Sedunia.
Program siaran ini menjadi ruang bagi banyak pihak untuk menyuarakan pesan perlindungan anak sekaligus merayakan hak-hak mereka. Bagi DP2PA, kehadiran dalam program ini bukan hanya sekadar undangan, tetapi bagian dari komitmen panjang untuk memastikan setiap anak di Kota Samarinda tumbuh dalam lingkungan yang aman, dihormati, dan penuh kasih sayang.

Beberapa anak menampilkan tarian di halaman SMP Negeri 2 Samarinda
Sejak awal acara, nuansa inspiratif begitu terasa. Narasumber, pelajar, orang tua, dan perwakilan lembaga berkumpul untuk berbagi cerita, pengalaman, dan harapan tentang pentingnya menjaga hak anak. Dalam kesempatan tersebut, DP2PA Samarinda menegaskan kembali bahwa tema “Hariku, Hakku” bukan sekadar slogan, tetapi pengingat bahwa setiap hari dalam kehidupan seorang anak adalah sepenuhnya milik mereka. Hari untuk bermimpi, belajar, bermain, dan tumbuh tanpa rasa takut.
Kepala RRI Samarinda, Siti Saraswulan, S.Sn, M.Sn dalam sambutannya mengatakan "Setiap Anak memiliki hak yang sama untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi dalam lingkungan yang aman, nyaman dan penuh kasih sayang. Anak-anak bukan hanya generasi penerus tetapi juga invenstasi terbesar bangsa, Mereka adalah cerminan masa depan Indonesia" ujar Kepala RRI Samarinda.
Mewakili DP2PA, Kepala Bidang PHA, dr. Muhammad Abduh Faisal Sumampow, M.Kes, MARS, menyampaikan pesan yang menyentuh.
“Ketika kita memberikan ruang aman bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri, kita sedang membangun masa depan kota ini. Karena anak hari ini adalah pemimpin besar esok hari” tegasnya.
Program Siaran Kita Indonesia Jilid 2 pun menjadi jembatan yang mempertemukan suara anak dengan kebijakan pemerintah daerah. Anak-anak yang hadir memberikan pandangan mereka tentang sekolah ramah anak, bahaya perundungan, hingga harapan akan lingkungan yang lebih mendukung kreativitas dan keberanian mereka.