Public Speaking Bukan Sekadar Bicara, tapi Menyampaikan Makna dengan Hati

Image Description
3 bulan yang lalu Dilihat : 119 Kali
Share:
Public Speaking Bukan Sekadar Bicara, tapi Menyampaikan Makna dengan Hati

Samarinda — Berbicara bukan sekadar menyusun kata, tetapi tentang bagaimana pesan sampai ke hati pendengar. Itulah makna utama yang disampaikan oleh Endro Efendi, S.Sos., C.Ht., CT., CPS., CIP dalam kegiatan Bimbingan Teknis Public Speaking yang digelar pada 25 Oktober 2025 di Rumah Ulin Arya Samarinda.

Menurutnya, kata-kata hanya mewakili 7% dari komunikasi. Sisanya, datang dari nada suara, ekspresi, dan energi hati. Orang lebih cepat menangkap emosi dibandingkan memahami kalimat yang diucapkan. Karena itu, berbicara yang baik bukan soal tampil percaya diri, melainkan soal menyampaikan makna dengan ketulusan.

Bapak Endro ketika menjelaskan materi mengenai rasa takut

“Public speaking bukan pertunjukan. Ini soal bagaimana kita menyampaikan pesan yang benar-benar bermakna” ujar Endro.

Dalam sesi pelatihan yang berjalan hangat, Endro mengajak peserta memahami bahwa komunikasi yang efektif lahir dari kesadaran diri dan empati. Sebelum berbicara, tanyakan pada diri sendiri: “Apa niat saya? Menegur, atau menolong?” Dari sanalah muncul komunikasi yang jujur dan berdaya.

Ia menyebut ada tiga pilar utama komunikasi efektif:

  1. Kesadaran diri (self-awareness) – mengenali emosi dan pikiran sebelum berbicara.

  2. Empati – mencoba memahami perasaan orang lain tanpa menghakimi.

  3. Kejelasan (clarity) – menyampaikan pesan dengan bahasa yang mudah dan tujuan yang jelas.

Bapak Endro juga menyinggung tentang pentingnya mengelola emosi. Banyak masalah muncul karena emosi yang dipendam terlalu lama. Ia menekankan, daripada memendam, lebih baik menyalurkan dengan cara sehat. Misalnya menulis isi hati di kertas, lalu membuang atau membakarnya setelah selesai. “Energi negatif harus dilepaskan, bukan disimpan,” pesannya.

Di akhir sesi, peserta diajak untuk berlatih mendengar dengan hati, bukan hanya dengan telinga. Saat seseorang merasa benar-benar didengar, di situlah komunikasi menjadi jembatan, bukan tembok. “Orang akan lebih percaya pada perasaan yang tulus daripada kalimat yang dirangkai dengan indah,” ucap Bapak Endro menutup sesi.

Foto Peserta beserta Narasumber (Bapak Endro Efendi, S.Sos., C.Ht., CT., CPS., CIP)

Pelatihan ini meninggalkan kesan mendalam. Dari berbicara di depan umum, para peserta belajar hal yang lebih besar, bagaimana menyampaikan pesan dengan empati dan kesadaran hati. Karena sejatinya, komunikasi bukan hanya tentang didengar, tapi tentang membuat orang lain merasa dimengerti.

TINGGALKAN KOMENTAR